Monday, 11 April 2011

cerita waktu subuh

Cerita Waktu Subuh

          Seperti biasanya setelah selesai shalat Subuh semua orang pulang kerumah masing-masing untuk menyiapkan aktifitas pagi harinya. Tapi dinginnya subuh itu seorang gadis muda berkerudung putih enggan meninggalkan masjid. Mulutnya dikunci rapat-rapat, tubuhnya ia sandarkan pada tembok, seolah ia sedang menanggung beban yang berat. Ia teringat, ketika pertama kali ia berjumpa dengan Johan, ketika itu ia dikenalkan oleh temannya dan entah kenapa mulai saat itu nama Johan selalu ada di hatinya. Ia pun teringat ketika mutiara kata cinta meluncur dari bibir Johan, lembut selembut sutra, sejuk sesejuk embun pagi, indah seindah pelangi petang hari. Ketika itu bibirnya tidak bisa berucap, yang ia tahu, ada sebuah getaran yang tidak ia mengerti. Ia berkata dalam hati apakah ini yang namanya jatuh cinta.
Matanya yang lentik melirik pada jam dinding yang terletak disamping kanannya, ia ingin memastikan jam berapa sekarang, kemudian ia melanjutkan lamunannya.
Ia teringat ketika Abah ayahnya pernah mengatakan bahwa cinta adalah anugrah tapi kenapa hubungan dia dan Johan tidak direstuinya. Ia tahu Johan memang tidak satu akidah dengan dirinya, itulah yang meyebabkan Abah tidak merestuinya, tapi apa salahnya. Bukankah Abahnya pernah berkata bahwa cinta yang tumbuh adalah anugrah sebagai pengejawantahan sifat Rahman dan Rohimnya Allah. Bukankah cinta itu datang dengan sendirinya, tidak di minta, dan datangnya pun dari Allah, lalu kenapa Abah tidak merestuinya. Salahkah cinta kami ? apakah hanya karena berbeda aqidah kami tidak boleh bersatu.
Ia teringat ketika hal itu ia utarakan kepada Johan yang disaksikan Abahnya dengan entengnya Johan berkata bahwa untuk membuktikan rasa cinta pada dirinya ia bersedia memeluk Islam sebagai agamanya. Tapi kenapa Abah tetap tidak merestuinya. Apanya yang salah ?
Dalam kegalauan pikirannya itu, tak ia sadari bahwa Abahnya dari tadi mengawasi dirinya, kemudian iapun di Panggil, “Marta, anakku kemarilah ?”, suara itu membuyarkan lamunannya, ia kaget, kemudian buru-buru ia seka air mata yang memang dari tadi membasahi pipinya. Kemudian ia pun mendatangi Abahnya.
Lalu Abahnya berkata “Marta, Abah mengerti perasaanmu!” kemudian Marta menyela “Lalu kenapa Abah tidak merestuinya ?”.
Tanpa langsung menjawab pertanyaan Marta Abahpun kemudian melantunkan sebuah ayat suci Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 221 yang kemudian ia terjemahkan “Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mu’min lebih baik dari wanita musrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu nikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak mu’min lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” Kemudian ia berkata “Marta, seorang suami adalah pemimpin keluarganya, Johan masuk Islam bukan karena iman kepada Allah, bukan karena kebenarannya, bukan pula karena lurusnya agama Islam, tapi karena nafsu ingin memilikimu, Abah mendengar sendiri mudahnya dia menukar akidah dengan alasan cinta.”
Tetesan air mata kembali membasahi pipi Marta, dan ia berkata dalam hatinya “Ya Allah, sekiranya cintaku penuh dengan nafsu, aku taubat dan ampunilah dosa-dosaku dan rubahlah cinta penuh nafsu ini menjadi cinta tulus murni hanya mengharapkan keridhoan-Mu”.

No comments: