Monday, 12 December 2011

betara kala



            Dewi  Tannana adalah seorang putri yang cantik, dewi Tannana ingin punya suami seorang pria yang Purbawisesah, sehingga dewi Tannana menjalani tapa betara namanya tapa nyandhong, artinya tidak makan kalo tidak ada sesuatu yang jatuh ke mulut, yang tidak minum kalau tidak ada air yang masuk ke dalam seperti air hujan (embun).

            Suatu ketika Batara Guru datang ke hadapan sang dewi, maka sang dewi menghaturkan sembah, maka sembahnya di terima sang batara. Setelah itu Betara Guru bertanya kepada dewi Tannana “Sebenarnaya kau ingin apa?” Jawab dewi : ”Hamba ingin mempunyai suami Purbawisesa”. Kata Batara Guru: ”Kalau yang Purbawisesa akulah orangnya”. “Kalau  begitu baiklah tetapi hamba punya satu permintaan”, kata sang dewi Tannana, ”Apa permintaanmu?” kata betara guru, kata sang dewi : ”Apakah tuan sanggup riyab-riyab rambutku? (ambil air wudhu dan sholat subuh). Maka Betara Guru menyanggupi (memenuhi) permintaan sang dewi. Setelah Betera Guru selesai melaksanakan permintaan sang dewi. Maka tuan Batara Gurupun mendekat kepada sang dewi Tannana, tetapi sang dewi menolak. Kata sang dewi; ’Katanya tuan seorang Purbawisesa, tapi tuan bohong” maka dewi Tannana lari, maka tuan Batara Gurupun mengejar sang dewi. Tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang di tengah jalan, melihat Betara Guru sudah dekat sehingga dewi Tannnana menyingsingkan kainnya terus melompati pohon tersebut, maka terlihatlah betis dewi Tannana oleh Betara Guru, sehingga Batara Guru mengeluarkan air mani (kuman). Maka air mani itu di buang di laut batara gurupun meminta bantuan kepada para dewa-dewa. Semuanya untuk memusnahkan kuman itu dengan memakai senjata dan mantra, tetapi apa yang terjadi, kumanya itu bukannya musnah tetapi tambah besar dan subur sehingga menjadi manusia, tetapi tidak selayaknya manusia, rupanya jelek dan tubuhnya besar sekali, sehingga para dewa lari tunggang langgang. Para dewa langsung melaporkan kejadian ini. Tetapi Betara Guru memerintahkan kepada para dewa untuk menggali jalan yang akan di lewati oleh raksasa tadi, sehingga raksasa tadi terjerumus ke dalam galian itu (galian itu di namakan belumbang) maka raksasa itu menamakan dirinya sangkala belumbang banjir. Dan di gantikan oleh Betara Guru menjadi BETARA KALA.         

No comments: