Tuesday, 11 February 2014

Singapura Menggugat KRI Usman Harun-Indonesia


Penamaan KRI Usman Harun yang sempat digugat oleh pemerintah Singapura akhirnya menimbulkan polemik, kalau tidak bisa diselesaikan dengan diplomasi maka akan berakibat pada meretaknya hubungan antara kedua negara.

Pemerintah Singapura merasa keberatan atas penaaan KRI dengan nama Usman Harun mengingat Usman Harun atau dikenal dengan Kopral Harun bersama Serda Usman, dihukum gantung di Singapura pada tahun 1968 karena meledakkan gedung. Keduanya menjadi pahlawan bagi Indonesia.

Harun, Usman, dan Gani bertugas di era konfrontasi Indonesia-Malaysia pada tahun 1963-1965. Ketiganya ditugaskan menyusup ke Singapura (saat itu masih jadi bagian Malaysia) dan meledakkan MacDonald House. Harun dan Usman tertangkap, sedangkan Gani lolos.


Meski sempat dibela pemerintah Indonesia, hukuman mati terhadap Usman dan Harun tetap dilakukan. Keduanya digantung di penjara Changi pada 17 Oktober 1968. Kemudian jenazah dikirim ke Indonesia dan dimakamkan di TMP Kalibata. 



Keluarga Harun tak mengetahui Harun adalah tentara. Maka itu, mereka kaget saat utusan datang ke rumah dan mengabarkan Harun dihukum gantung serta meminta kesediaan keluarga menghadiri pemakaman. Saat itulah keluarganya langsung menangis terharu. 

Tiga hari sebelum hukuman dilaksanakan, ia sempat berkirim kabar. Berikut surat terakhir pria bernama asli Tahir tersebut. 



Name: Harun Said Tohir Mahadar Changi Prison, 14 Oktober 1968


Dihaturkan
Yang Mulia Ibundaku
Awiani Binti Bang
yang diingati siang dan malam

Dengan segala hormat
Ibundaku yang dikasihani surat ini berupa surat terakhir dari ananda Tohir. Ibunda sewaktu ananda menulis surat ini hanya tinggal beberapa waktu saja ananda dapat melihat dunia yang fana ini. Pada tanggal 14 Okotober 1968 rayuan ampun perkara ananda kepada Presiden Singapura telah ditolak jadi mulai dari hari ini Ananda hanya tinggal menunggu hukuman yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 Oktober 1968. 

Hukuman yang akan diterima oleh ananda adalah hukuman digantung sampai mati. Di sini ananda harap kepada Ibunda supaya bersabar karena setiap kematian manusia adalah tidak siapa yang boleh menentukan satu-satunya yang menentukan ialah Tuhan Yang Maha Kuasa dan setiap manusia yang ada di dalam dunia ini tetap akan kembali kepada Illahi. 

Mohon ibunda ampunilah segala dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan ananda selama ini sudilah Ibundaku menerika ampun dan salam sembah sujud dari ananda yang terakhir ini. Tolong sampaikan salam kasih mesra ananda kepada seisi kaum keluarga ananda tutup surat ini dengan ucapan terima kasih dan Selamat Tinggal untuk selama-lamanya. Amin.

No comments: